Selasa, 09 Juni 2015

Mendaki Bersama dan Kumpul Bareng Jelajah Wisata Alam di Puncak 29


foto bersama tim jewita di puncak 29
Pada awalnya, tim jelajah wisata alam mengadakan pendakian ke puncak 29 bertujuan untuk mengakhiri petualangan tim jelajah wisata alam sebelum puasa ramadhan.

Dengan adanya rencana yang seperti itu, akhirnya tim berencana mengadakan teknikal meeting untuk membahas tentang pelaksanaan mendaki puncak tertinggi di pegunungan muria tersebut. Dari berbagai pertimbangan, akhirnya kegiatan teknikal meeting dilaksanankan di rumah saudara Shobirin di desa Ngabul Tahunan Jepara.



Kegiatan teknikal meeting sangat bermanfaat, karena dengan adanya kegiatan tersebut, kami bisa saling berbagi ilmu tentang kegiatan muncak. mulai dari perbekalan, peralatan pribadi, peralatan penting sampai berbagi tips tata cara muncak yang benar. mengenai perbekalan dan peralatan umum serta kebutuhan di sepanjang perjalanan. kami putuskan untuk iuran.

Selain mengetahui teknik mendaki yang benar, kami juga bisa saling bekerja sama melengkapi peralatan yang akan dibawa waktu muncak.dari hasil diskusi pada teknikal meeting, akhirnya jadwal keberangkan dilaksanakam pada hari Sabtu 6 Juni 2015 dengan tempat berkumpul peserta di SPBU Sengon Bugel, Mayong.
kumpul di pom sengon bugel
Waktu yang ditunggu - tunggu telah tiba, Sabtu sore menunjukkan pukul 17.00 WIB. para anggota mendaki mulai berkumpul di SPBU Sengon Bugel. Karena masih ada anggota yang belum datang, akhirnya kami putuskan untuk menunggu sambil menunggu waktu Maghrib tiba. Waktu telah menunjukkan pukul 17.40 WIB, terdengar suara adzan berkumandang dan teman yang kami tunggu belum juga datang. Akhirnya kami putuskan untuk melaksanakan kewajiban Sholat dulu.

Setelah semua anggota melaksanakan sholat, tak berapa lama teman yang kami tunggu datang. kamipun langsung bergegas melanjutkan perjalanan. dengan melewati dua rute yang berbeda, perjalanan yang biasanya bisa ditempuh kurang dari satu jam, molor sampai hampir 2 jam karena tim yang melewati jalur kota terjebak macet dikarenakan adanya dandangan atau yang biasa dikenal dengan pasar tumpah sebelum puasa.

waktu telah menunjukan pukul 20.30 WIB, dan semua peserta telah berkumpul di masjid pertama setelah pintu masuk desa Rahtawu. di masjid tersebut anggota yang ingin melakukan sholat Isya diperkenankan untuk Sholat. Setelah anggota melaksanakan kewajiban Sholat, perjalanan dilanjutkan. Baru berjalan beberapa puluh meter, ada anggota kami yang ban motornya kempes. Mau tidak mau, kami harus menambalkan ke tukang tambal ban.

Karena kondisi pada waktu itu listrik padam, kami kesulitan untuk mencari tambal ban. setelah mencoba mendatangi beberapa tempat tambal ban, akhirnya kami bertemu dengan seorang ibu. yang kebetulan Suami ibu tersebut adalah seorang penambal ban. Namun, karena yang menambal ban. tidak ada dirumah, terpaksa kami harus menitipkan motor kami di tempat tambal ban tersebut. Syukur masih ada dua motor yang tidak berboncengan, jadi anggota yang motornya dititipkan bisa langsung ikut menuju tempat parkir tanpa kami harus mengulanginya lagi.

Alhamdulillah, masalah ban bocor sudah dapat diatasi, kami pun melanjutkan perjalanan menuju tempat parkir. setelah 10 menit berlalu, tibalah kami di tempat parkir. Saat itu pula kami membagikan perbekalan kepada para anggota, sekaligus meringankan beban panitia.

Sebelum pendakian dimulai, tim breafing mengenai sistematika perjalanan dan sekaligus melakukan doa bersama. Sesudah melakukan doa bersama, perjalanan pun dimulai. Dengan dipimpin oleh mas Agus Samik yang sudah beberapa kali melakukan perjalanan ke puncak 29. tim jelajah wisata berjalan dengan santai, sambil menjaga temannya satu sama lain agar tidak ada yang tertinggal. jika jika salah satu anggota capek, kami kami putuskan untuk beristirahat bersama.


Setelah berjalan kurang lebih 30 menit, kami beristirahat sejenak di pos pertama, Disini kami sekedar duduk-duduk sebentar sambil bercengkrama satu sama lain. tidak berlangsung lama, perjalanan dilanjutkan. jalan yang kami lalui mulai menanjak, kami berjalan dengan santai dan tidak tergesa -gesa agar perjalanan tidak terasa capek. Suasana perjalanan terasa mengasyikkan, karena para anggota saling bercanda satu sama lain.



30 menit perjalanan telah kami lampaui kembali, kami tiba di pos ketiga, berbeda dari di pos yang pertama tadi. Di pos ketiga ini terdapat warung yang menyediakan makan maupun perbekalan. Karena cuaca mendung dan gerimis, akhirnya kami putuskan untuk beristirahat kembali.


Setelah puas beristirahat, perjalanan kami lanjutkan. dengan sedikit was-was akan adanya hujan turun. kami melanjutkan perjalanan dengan langkah yang lebih cepat. Satu demi satu kami melangkah, tibalah kami di pertigaan yang menunjuk kan arah ke puncak 29 untuk kekiri dan arah bunton untuk ke kanan.

Karena dari awal kami merencanakan untuk beristirahat malam di Sendang Bunton. kami mengambil arah kanan. Kami ikut jalan tersebut dengan diketua mas Agus Samik. Setelah beberapa menit perjalanan kami lalui, tibalah kami di Sendang Bunton. yang juga merupakan posko ke 5 pendakian Puncak 29. Disini kita bisa jajan di warung, ataupun hanya sekedar beristirahat, karena di sendang ini telah dibuatkan tempat beristirahat para pendaki Puncak Sapto Renggo atau lebih dikenal dengan puncak 29.




Waktu telah menunjukkan pukul 23.00 WIB, hawa dingin makin terasa menusuk tulang. Untuk menghangatkan diri kami membuat kopi hangat dan merebut mie instan yang kami bawa sebagai pengganjal perut agar tidak masuk angin. Sungguh nikmat menikmati mie rebus dan kopi hangat di tengah - tengah dinginnya malam di puncak gunung.

Beberapa dari kami langsung tidur karena kami harus melanjukan perjalanan menuju puncak 29. Setelah puas menghangatkan diri, kami beristirahat agar tubuh lebih fit saat melakukan perjalanan menuju puncak.

Tepat pukul 2 malam, saat udara malam sedang dingin-dinginnya, kami bergegas bangun dan bersiap-siap untuk meneruskan pendakian. dinginnya malam dan angin yang semakin berhembung dengan kencang, membuat kami harus ekstra hati-hati untuk melanjutkan pendakian. jalan yang semakin terjal dan semakin licin, sedikit menghambat kami untuk melakukan perjalanan. tak jarang, hembusan angin yang disertai dengan tetesan air yang tertiup angin, menjadikan suasanya malam semakin sunyi dan dingin.

Suhu yang ekstrim memaksa kami untuk sejenak beristirahat di tengah-tengah perjalanan. semakin keatas, angin yang berhembus semakin kencang dan juga hawa dingin semakin terasa. dalam perjalanan, kami hanya bisa berhati-hati sambil berdoa agar tidak terjadi apa-apa serta kami semua selamat sampai tujuan.

Satu jam perjalanan dari Bunton telah berlalu, dan kami tiba di pos ke 6 atau pos yang terakhir sebelum puncak 29. disini kami tidak beristirahtat melainkan langsung melanjutkan perjalanan. setelah melewati beberapa petilasan dan warung - warung warga. kami langsung disambut oleh medan yang langsung menanjak. Dengan melakukan perjalanan dengan pelan tapi pasti, kami melewati medan yang cukup sulit ini. embun yang membasahi tanah dan bebatuan di sepanjang jalan, membuat jalan menjadi licin sehingga memaksa kami untuk selalu waspada dan hati-hati. tak jarang kami harus berhenti sebentar saat melewati jalan yang licin yang susah.

Satu jam perjalanan telah berlalu, dan waktu menunjukkan pukul 03.45 WIB. dimana sebentar lagi, waktu subuh akan datang. sesampainya di puncak, kami langsung memasang tikar dan berstirahat. karena kami datangnya telat kami tidak kebagian tempat istirahat di bilik peristirahatan. terpaksa kami memasang tikar di tempat terbuka.

Teman-teman yang sudah capek langsung tidur, dan sebagian ada yang melakukan aktivitas memasak air untuk minum kopi dan merebus mie instan. waktu pun berlalu, dan telah menunjukkan jam 04.30 WIB, dan tibalah saatnya waktu subuh. sinar fajar tidak terlihat, karena tertutup mendung dan kabut. Namun tetap saja, subuh telah tiba dan bagi yang sholat kami memberikan toleransi untuk melakukan ibadah.

jam sudah menunjukkan pukul 04.50 WIB, saatnya sunrise memunculkan wujud aslinya. Namun, sayang sekali. Sunrise yang kami tunggu hanya berlangsung beberapa detik saja, kemudian hilang terhalangi oleh kabut dan mendung.

Kami sedikit kecewa karena kabut tebah menghalangi sunrise dipagi itu. karena itu kami melakukan foto untuk dokumentasi tanpa melibatkan pemandangan sunrise. setelah berfotoria dan bercanda sesama teman-teman mendaki. kami memutuskan untuk turun gunung. Jam 8 pagi kami turun dari puncak 29. saat itu cuaca masih belum stabil, karena angin berhembus kencang, membuat kami sesekali harus merunduk dan berlindung di belakang batu. tekstur jalan yang kanan dan kiri jurang, membuat kami harus ekstra hati-hati.

Kurang lebih dua jam perjalanan berlalu, tibalah kami di Sendang Bunton. disini kami beristirahat dan membersihkan diri. Sejenak beristirahat, kami melanjutkan perjalanan. jangan lupa untuk menyumbang sebagian harta untuk pengembangan sendang bunton. meski bangunan sendang ini dibuat oleh desa setempat, namun kita juga diperbolehkan untuk memberikan kontribusi agar sendang Bunton dan fasilitas lainnya di sepanjang jalan menuju puncak 29 semakin layak dan menguntungkan bagi para pendaki.

Perjalanan turun kami lalui dengan santai, sambil berfoto dan berselfi ria, kami menikmati perjalanan dengan pemandangan yang sangat indah. tibalah kami di tempat parkir pada pukul 11.45 WIB.
dari tempat parkir kami langsung turun untuk pulang menuju rumah masing-masing.













Sebelum pulang, kami melakukan foto bersama di tugu selamat datang di desa Rahtawu, sebagai kenang-kenangan kami pernah melakukan pendakian yang sangat menyenangkan di dukuh Rahtawu. tepatnya menuju puncak 29.

berikut beberapa hasil foto yang kami abadikan dalam perjalanan.